Forum Dunia Sastra
« Balada Anak Jalanan »

Welcome Guest. Please Login or Register.
Jan 1, 2010, 1:19pm



Untuk dapat memposting dalam komunitas ini, silahkan anda register terlebih dahulu. Notifikasi Pasword dan username keanggotaan Anda, akan kami kirimkan melalui email Anda

Forum Dunia Sastra :: General :: Cerpen :: Balada Anak Jalanan
   [Search This Thread][Send Topic To Friend] [Print]
 AuthorTopic: Balada Anak Jalanan (Read 548 times)
ririn
New Member
*
member is offline




[homepage]

Joined: Jul 2008
Gender: Female
Posts: 10
Location: Indonesia
Karma: 0
 Balada Anak Jalanan
« Thread Started on Jul 6, 2008, 3:31pm »

Bajunya compang camping. Tangannya hitam diterpa sinar mentari yang begitu panas siang itu. Ia terbaring di depan sebuah ruang ATM BCA. Wajahnya lusuh.
Matanya terpejam. Namun tangan kanannya sesekali menggenggam perut yang berada dibalik baju putih lusuh itu. Mulutnya meringis sambil sesekali mengatakan," lapar. Lapar."
Ku dekati anak yang mungkin berusia sekitar 7 tahun itu. Ku beri ia sebungkus roti yang baru saja aku beli di toko samping ruang ATM.
Ia menatap roti di tangan kananku. Tapi ia tidak tertarik sepertinya. Aku heran, pikirku pun berkata, masa' sih anak ini tidak mau roti berisi coklat ini.
Rotinya sih memang berharga murah. Tapi kan aku masih punya 5 bungkus lagi dalam plastik hitam di tangan kiri ku.
Ku semakin mendekati anak lelaki itu. Begitu dekat. Hingga aku bisa melihat bola matanya yang ternyata berwarna coklat.
Ku sodorkan sebungkus roti yang ada di tangan kananku berikut lima roti lain di tangan kiriku.
Ia tidak menolak, tidak juga menerima. Dipandanginya saja roti yang ada di tanganku. Kemudian ia menatap wajahku. Pandangan kami pun beradu.
"Ayo ambil. Ini untukmu," kataku meyakinkan dirinya.
Tapi, ia hanya terdiam. Ia pun bangun dari posisinya berbaring. Kemudian ia duduk menyandar ke dinding ruang ATM itu.
"Ada apa," tanyaku pada lelaki yang akhirnya ku ketahui bernama Rizal itu.
Ia pun menjawab, "Berapa saya harus membayar roti-roti itu." Jawaban yang berupa pertanyaan. Pertanyaan yang menyontakkan hatiku. Pertanyaan yang membelalakkan mataku.
"Maksud kamu," tanyaku lagi.
"Jika sebungkus roti berharga Rp 1000. Jika ada lima roti, berarti saya harus bayar Rp 5000," jawabnya. Jawaban yang semakin membuat hatiku bersontak kaget.
"Ini untukmu. Aku yang ngasih. Bukan untuk kamu beli," ujarku seraya menyodorkan kedua tanganku padanya.
"Saya memang anak jalanan. Tapi, saya bukan pengemis. Saya masih bisa bekerja dengan membersihkan sepatu," katanya seraya menunjukkan sebuah peti kecil berukuran 15 x 15 centimeter itu.
Aku tidak melihat peti itu awalnya. Karena peti itu terletak di belakang tubuh mungilnya. Jadi, mana ku tau kalau dia ternyata tukang semir sepatu.
"Siapapun kamu dan apapun kerjaanmu, akut etap ingin memberi kamu roti-roti ini," aku pun tak mau kalah untuk memberinya roti-roti itu.
"Tapi, kamu akan membebani aku. Aku tak punya uang untuk membayarnya. Aku juga tidak mau mengambilnya karena gratis," sekali lagi jawaban yang membelalakkan mataku.
Akhirnya, aku pun menyerah. Aku hargai prinsip anak jalanan itu. Tapi, aku tetap ingin roti-roti itu untuknya.
"Gini saja. Kamu ambil roti ini. Tapi, bayarannya kamu bersihkan sepatu ku," akhirnya ku tegakan juga diri ini menerima prinsip keras anak jalanan itu.
"Ok..." anak itu setuju. Matanya berbinar. Ia pun meminaku untuk melepas sepatu hitam bucherri ku.
Ia pun membuka peti hidup yang ada di depannya. d**eluarkannya semir sepatu bermerek Kiwi. Dioleskannya pada sepatu ku. Tangannya pun menari membersihkan sepatuku dengan sikat kecil berwarna hitam itu.
Dan, seketika, sepatuku mengkilap. Sebagai bayarannya, ku berikan roti-roti itu. Ia tersenyum. Diraihnya roti-roti itu.
d**eluarkannya sebungkus roti dari plastik hitam. Roti tersebut diberikannya padaku. Aku menolak. Bagaimana mungkin aku mengambil barang yang telah aku berikan pada orang lain.
"Ambillah. Sebagai lambang persahabatan," katanya seraya mengulaskan senyum di sudut bibir munglinya.
Aku pun mengambil roti itu. Dan tersenyum. Senyum yang paling indah mungkin.
Anak itu berlari ke teman-temannya. Diberikannya roti itu pada teman-temannya. AKhirnya ia hanya punya sebungkus roti saja di tangannya.
Ia pun menyeberangi jalan, jalan di seberang posisiku. Ku layangkan pandang padanya. Setibanya di tepi jalan seberang itu, ia memalingkan wajahnya.
Ia tersenyum. Senyum yang sangat indah. Sangat indah. AKu terpesona pada senyum itu.
Ku lihat ia membuka roti yang kuberi itu. Di gigitnya. Sementara matanya masih menatapku. Tak jauh jarak kami, sekitar lima meter saja.
Sebuah mobil sedan berwarna putih melintas di antara kami. Keterpesonaanku terganggu oleh mobil itu. Setelah mobil itu pergi, anak jalanan itu sudah tidak ada lagi.
AKu mencari-cari. Ku celingak celingukkan kpalaku. Tapi kemana anak itu pergi. Bahkan suaranyapun tak ku dengarkan lagi.
Kemana kah ia. Kemana kah juga teman-temannya. AKu pun menunduk. Ku tatap sebngkus roti yang ada di tanganku.
Entah kenapa, aku jadi rindu pada anak jalanan itu. Ku rindu pada senyumnya yang mempesonaku. Ku rindu pada mata coklatnya itu.
Link to Post - Back to Top  IP: Logged

Ririn
ririn
New Member
*
member is offline




[homepage]

Joined: Jul 2008
Gender: Female
Posts: 10
Location: Indonesia
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #1 on Jul 6, 2008, 3:31pm »

Teman-teman....tolong kasih komentar ya...thanks lho........
Link to Post - Back to Top  IP: Logged

Ririn
webmaster
Guest
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #2 on Jul 8, 2008, 12:15pm »

ini kisah nyata atau fiktif ya?....ok juga ;)
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
hanafi
New Member
*
member is offline





Joined: May 2008
Posts: 7
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #3 on Jul 9, 2008, 11:42am »

Ide ceritanya bagus, pesan yg ingin disampaikan jelas, ceritanya padat dan ringkas, tapi pesannya sampai.

Itu sedikit apresiasiku. Dan bagiku sendiri, mungkin aku belum bisa membuat cerita seperti itu.

Tapi, lebih dari sekedar pesan yg ingin disampaikan, alangkah lebih baiknya hal-hal seperti penulisan ejaan yg benar, menulis kata penunjuk tempat sebagai kata penunjuk tempat, imbuhan sebagai imbuhan, awalan sebagai awalan, dan beberapa hal lainnya yg itu mungkin tak terlalu diperhatikan pada cerpen ini. Masalahnya, jika hal2 tsb tak diperhatikan, maka paling tidak bagiku sendiri begitu sangat mengganggu.

Bagi sebagian penulis, hal2 tsb mungkin sepele. Tapi dari hal2 yg sepele itulah, kita belajar menghargai kata demi kata yg kita tulis. Ingat, bahwa suatu cerita awalnya terbentuk dari huruf demi huruf, kemudian menjadi kata demi kata, kemudian menjadi kalimat demi kalimat, kemudian menjadi paragraph demi paragraph, hingga terangkailah menjadi suatu tulisan atau cerita yg utuh.

Terlepas dari semua itu, terus-terang, sekali lagi kukatakan, ide ceritanya bagus. Secara pribadi, aku ingin berpesan kepada Ririn sebagai penulis cerita ini, teruslah berproses dalam menulis. Jangan pernah puas dengan apa yg sudah kita dapatkan. Terus…terus…dan teruslah berproses.

Oh ya, sebenarnya aku pun dalam hal ini (menulis cerita) masih dalam proses belajar. Dan alangkah lebih baiknya, dalam ruang diskusi "maya" kita ini, kita (siapapun yg tergabung dalam diskusi ini) bisa saling memberi masukan, ide, saran, dan kritik. Dan mungkin kita juga bisa saling berbagi wawasan dan berbagi karya.

Itu saja utk saat ini. Aku harap diskusi ini terus berlanjut.


Salam hangat,
Hanafi Mohan
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
ririn
New Member
*
member is offline




[homepage]

Joined: Jul 2008
Gender: Female
Posts: 10
Location: Indonesia
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #4 on Jul 12, 2008, 7:17pm »

alhamdulillah makasih ya masukannya........aku seneng bangetsz...atas apresiasinya......semoga jadi kemajuan bagi aku,,juga bagi kita semua....amin
Link to Post - Back to Top  IP: Logged

Ririn
yetty
New Member
*
member is offline





Joined: Jul 2008
Gender: Female
Posts: 2
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #5 on Jul 21, 2008, 1:48pm »

ceritanya bagus, kapan2 bagi resep donk ke kita, resep bikin cerpen maksudnya, bukan resep makanan :)
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
Jadoel
Guest
 Mee: 'Jadoel nagg Jakarta'
« Reply #6 on Aug 9, 2008, 4:07pm »

Semau lo akan terjadi kapan sajah dan di manah sajah kok
tetapi iqlass ajh ke padah orang ok...?? 8-)
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
dio
New Member
*
member is offline





Joined: Sept 2009
Gender: Male
Posts: 1
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #7 on Sept 18, 2009, 8:54pm »

lumayan
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
yayan
New Member
*
member is offline





Joined: Oct 2009
Gender: Male
Posts: 3
Karma: 0
 Re: Balada Anak Jalanan
« Reply #8 on Oct 2, 2009, 3:23pm »

bagus, aku suka cerpennya , , , terlebih lagi pada pesannya., suka banget
Link to Post - Back to Top  IP: Logged
   [Search This Thread][Send Topic To Friend] [Print]

sponsor : www.duniasastra.com , www.bisnisportal.com , www.planetcinta.com Forum ini bersifat universal humanis, tidak mewakili golongan tertentu, Ketentuan Umum : 1. Dilarang memposting hal-hal bersifat SARA. 2. Dilarang memposting Produk MLM dan sejenisnya. 3. Admin tidak bertanggung jawab terhadap hal-hal yang terjadi diluar Forum ini. Ketentuan ini mengikat kepada seluruh anggota maupun guest tanpa kecuali. Kami berhak mendelete dan mengeluarkan anda dari forum apabila anda melanggarnya.
Google
Webduniasastra.proboards.com
Click Here To Make This Board Ad-Free


This Board Hosted For FREE By ProBoards
Get Your Own Free Message Boards & Free Forums!